Gig Pertama

Gig pertamaku waktu masih SMA. Kalau tidak salah tahun 1997, di sebuah gedung olahraga (GOR) daerah Ciledug. Waktu itu lagi ngetrend aliran punk, alternative, brith pop, dan hardcore. Hampir tiap minggu ada festival musik amatiran untuk musik aliran-aliran gitu. Waktu itu juga lagi musimnya ngeband. Aku dan temen-temen bikin acara festival musik, kalau bahasa anak sekarang mungkin pensi (pentas seni). Hanya band-band punk, alternative, hardcore, rock, atau brith pop yang kita terima untuk seleksi.

gig

Aku sendiri tampil sebagai band punk. Bawain Anarchy in the UK, Silly Thing, dan King of Fool. Kostum seperti biasa: celana kulit hitam ketat, kaos oblong tulisan atau gambar-gambar band punk. Rantai melingkar di leher, tangan, dan celana. Sepatu boot, rambut pengen di mohawk tapi belom panjang. Ya udah cuma dipakein jel biar nge-jegrak keatas

Acara mulai jam 10, selesai sore sekitar jam 4. Wuiihhh…capek, lelah, apalagi sempet ada chaos. Biasalah, namanya anak punk kalo joget pogo-pogo ngikutin lagu suka saling senggol, dan akhirnya berantem.

Acaranya kita beri tajuk ” Hei…Ho…Lets…Go….” diambil dari judul lagu band punk legendaris Sex Pistols. Maklum, jaman itu aku dan temen-temen se-tongkrongan gila banget ama Sid Vicious dkk. Bawain lagu Sex Pistols udah te-o-pe be-ge-te dech…. Kalo anak punk ga tahu Sex Pistols, walahhhh diragukan ke-punk-annya.

Tiket festival kita cetak di kertas untuk pamflet bentuk persegi panjang (15 cm x 5 cm) bergambar bendera United Kingdom. Hehehe…kenapa ga bendera Indonesia? Soalnya Sex Pistols dari UK.

Gig: Sebutan untuk acara festival musik. Sebutan ini biasa dipakai band-band punk kalau menggelar pertunjukan.

Pogo-pogo : Joget ala punk

Mohawk : Rambut ala anak punk. Di bagian tengah kepala rambut tegak lurus keatas.

Rocker Juga Manusia

rocker

rocker juga manusia….punya rasa punya hati….

Nukilan reff lagu Rocker Juga Manusia dari band Seurieus itu kadang kala memang benar. Seorang rocker, misal, begitu familiar dengan tampilan garang, berambut panjang, warna pirang-pirang, bermuka jalang, piercing di kuping berjejer panjang, gaya jalan mentang-mentang, diiringi grupies serenteng. hehehehe.

Kalau ada rocker cuek, sangar, dan bad attitude kayaknya biasa ya? Lazimnya seniman ya kayak gitu. Tapi, apa gak boleh rocker tuh alim, tutur katanya santun dan bijak, perilaku sopan tepo seliro, penampilan rapi tapi tetep trendy.

Yah, namanya on stage and out stage yah beda donk! its so different, guys!

Well, kalo rocker kemudian terlihat rajin belajar (datang ke kampus, menyambangi perpus, melahap diktat), rajin beribadah, tak suka hingar bingar hedonisme kota, menjauhi alkohol and drugs, apa salah??

Rocker juga manusia. Punya sisi humanis. Gak percaya? kenapa Gito Rollies, Hari Mukti, dan Arthur Kaunang bisa jadi pendakwah?? Ada sisi humanis dan semacam kesadaran untuk tidak menjadi stereotype rocker yang negatif. Meski itu setelah pertobatan.

Lets Rock!!!

Tak ada yang menyenangkan selain menulis. Kesenangan yang berlanjut kepuasan bagi sang penulis, kalau tulisannya memberi seberkas inspirasi bagi mereka yang membaca. Ini bukan blogku yang pertama. Hanya, ini blog pertama yang berbeda dengan blog-blogku sebelumnya.

Namaku Rock.

Panggil aku “Hey Rock…” itu saja.

Lets rock, dude!!!